Holayate……!
Ya Allah…. Bukakanlah bagi kami Pintu-pintu Rahmat Mu
Ada pepatah yang mengatakan “ Seringkali manusia memusuhi apa yang tidak ia ketahui” dalam pengertian lain bahwa seseorang akan menjadi musuh dari apa yang tidak dia mengerti.
Berangkat dari ungkapan tersebut, komunitas Genk Kobra bersama Javaholic Forum tumbuh dalam ketidak tahuannya terhadap seni budaya, adat istiadat dan tradisi masyarakat, ekonomi, politik, wawasan kebangsaan, dan banyak hal lainnya.
Di sisi lain kehadiran Genk Kobra tidak sedikit menimbulkan bahan pertanyaan sedulur2 dan rekan2 yang melihat secara sekilas. Sebenarnya Genk Kobra itu termasuk jenis makhluk apa ? kelompok apa ? Gerakan apa ? mau apa ? Tujuannya apa ? dst..dst..
Pada dasarnya Genk Kobra hanyalah sebuah imajinasi atau lebih tepat disebut sebagai impian yang berubah menjadi sebuah harapan. Harapan yang kemudian dinamai menjadi Genk Kobra alias Jama’ah Kubro ( Persekutuan Raya ) meminjam istilah sedulur kami dari tlatah Muria.
Belajar dari ketidak-tahuan, komunitas Genk Kobra terus mengeksplorasi nilai nilai kearifan lokal yang tertanam di setiap kelompok masyarakat di republik ini agar tidak memusuhi dan tidak dimusuhi karena ketidak tahuan.
Dengan sendirinya pepatah tak kenal maka tak sayang ( kalau kenal maka sayang ),
bergulir dalam internal komunitas terhadap nilai2 tersebut.
Proses belajar dan mempelajari local wisdom ( meminjam istilah para pakar ) menjadi rutinitas yang bergulir dan mengalir di keseharian komunitas ini.
Ibarat air yang selalu mengalir dalam arus sungai yang ada tanpa pernah tahu akan melewati apa ? akan menghadapi apa ? akan berhenti di bendungan mana ? akan terpecah dan masuk kedalam irigasi yang mana ? atau harus melewati selokan sekalipun.
Tapi dalam proses perjalanannya yang normal, air akan selalu menawarkan kebutuhan utk menyuburkan lahan, dan menumbuhkan tanaman. Air selalu menjadi sarana bagi kehidupan. Meskipun disisi lain air seringkali dipaksa menerima limbah, sampah dsb. Namun jika airnya terus mengalir, maka ia dengan sendirinya akan mampu membersihkan dirinya dari bau busuk limbah / kotoran, dan menghantarkan kotoran yang terbawa ke tempat yang semestinya.
Suatu hal yang pasti bahwa air didalam sungai akan selalu mengalir menuju ke muara, tempat pertemuan dengan samudra yang luas, tempat pertemuan yang akan menerimanya dan membaurkannya dengan air yang lain.
Maka Genk Kobra juga hanya mengerti bahwa komunitas harus terus mengalir walau tidak pernah tahu lewat mana ? akan menghadapi apa ? dst…dst….
Genk Kobra selalu berusaha utk mengalir agar dirinya bisa bersih dan bisa membersihkan. Genk Kobra harus mengalir agar mampu menjadi sarana bagi tumbuh kembangnya harapan, kreativitas bagi semua individu maupun kelompok masyarakat ( tanpa perduli suku, agama, ideology, maupun orientasi politiknya ).
Genk Kobra juga hanya mengetahui satu hal, bahwa komunitas ini akan menuju tempat pertemuan yg sangat luas, tempat pertemuan yang tidak berbatas. Entah kapan dan entah dimana.
Proses ini ( berjalan seiring ungkapan tak kenal maka tak sayang ) telah melahirkan suatu harapan bersama.
Harapan terhadap munculnya koalisi rakyat alias persekutuan raya guna merajut kembali Nusantara dengan nilai2 kearifan lokal melalui jalur seni dan budaya dalam artian positif dan luas.
Beberapa rekan dan sedulur mempertanyakan apakah itu mungkin?? mengingat banyaknya suku dan perbedaanya ? Apakah mungkin dengan nilai2 kearifan lokal…? apakah mungkin lewat jalur seni dan budaya ? apakah mungkin Genk Kobra akan berhasil ?
Budaya atau nilai-nilai luhur yang bagaimana?
Mari kita mulai dari hal-hal yang simpel aja…
Budaya komunikasi & Silaturahmi (budaya dasar dari sebuah mahluk bernama manusia).
Dengan Komunikasi dan Silaturahmi, kita jadi tahu dan mengerti apa yang diinginkan oleh satu dan lainnya.
Dialog, Diskusi, Musyawarah, atau apapun bentuknya, Hasilnya tidak harus disatukan,
“Satu bukan berarti Sama”
“Mengalah bukan berarti Kalah”
Sekti tanpo Aji-aji, Sugih tanpo Bondho, Nglurug tanpo Bolo untuk mencapai “Menang tanpo ngasorake”.
Disini bukan berarti : Aji-aji, Bondho & Bolo itu tidak penting, tapi Menang dengan tidak menjatuhkan, menghancurkan atau melukai orang lain. Itulah intinya.
Dengan kata lain, Kemenangan itu bisa diraih dengan mudah, asal kita mau dan rela merangkul semua untuk menjadi kawan. yang akhirnya akan membuat sebuah kemenangan besar, karena semua Menang.
Budaya, Keyakinan, Bahasa, Warna, dll, tidak harus sama.
yang harus disamakan adalah sikap keihklasan berbagi ruang.
Koalisi justru membutuhkan perbedaan.
Persekutuan hanya membutuhkan keihklasan untuk mau bebagi ruang, menghargai perbedaan, keikhlasan utk mau bergotong royong.
Nilai kearifan lokal alias local wisdom adalah identitas yang telah given dalam genetika bangsa ini. Kearifan lokal ini adalah modal dasar komunitas Genk Kobra dalam perjalanan kesehariannya.
Jalur seni dan budaya adalah pilihan karena sejarah telah mencatat bahwa jalur politik ( baca partai politik ) telah banyak memecah belah bangsa, keyakinan juga telah banyak menimbulkan konflik tajam alias perpecahan.
Orientasi harapan Genk Kobra lebih pada proses dan barokah, bukan pada hasil. Sebab wilayah hasil adalah hak veto milik Sang Maha Pencipta.
Sebab kami yakin dengan berjama’ah akan mendatangkan barokah.
Harapan komunitas Genk Kobra “Merajut Nusantara” dengan nilai2 kearifan lokal, agar kelak bisa mewariskannya kepada generasi bangsa selanjutnya.
Bukankah kita semua telah memetik hasil dari apa yang telah ditanam para pendahulu bangsa ini dengan penuh perjuangan, pengorbanan….?????
Ya Allah… Tunjukkanlah kepada kami, Jalan yang Engkau Ridloi
Holayate…….!
sebagaimana ditulis adipati Genk Kobra di facebook komunitas genk kobra
Kembang Lambe.mp3 - Genk Kobra